SERBA SERBI COVID-19



COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan seperti flu, hingga infeksi paru-paru, seperti pneumonia.


COVID-19 (coronavirus disease 2019) adalah jenis penyakit baru yang disebabkan oleh virus dari golongan coronavirus, yaitu SARS-CoV-2 yang juga sering disebut virus Corona.

Dikutip dari kaltim.idntimes.com

1. Gejala infeksi virus corona
Orang yang terinfeksi virus covid-19 biasanya menampakkan gejala seperti flu biasa. Mulai dari hidung berair, pusing, batuk, demam, hingga sakit tenggorokan. Namun gejala ini juga bervariasi pada setiap orang.

Sebagian orang mengaku tidak merasakan gejala apa pun namun bisa menjadi hidden carrier, yang dapat menularkan virus corona. Sementara yang lain bisa merasakan keluhan yang parah seperti batuk darah, sakit dada, hingga sesak napas.
Namun melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat tiga gejala utama dari infeksi virus corona, yaitu demam, batuk, dan napas yang memendek. Kondisi tersebut biasa muncul dalam jangka waktu dua hingga 14 hari setelah infeksi. 

2. Penyebab infeksi virus corona
COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2, yaitu virus jenis baru dari coronavirus (kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan). Infeksi virus Corona bisa menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu, atau infeksi sistem pernapasan dan paru-paru, seperti pneumonia.

Pada penghujung tahun 2020, beberapa laporan kasus menyebutkan bahwa virus Corona telah bermutasi menjadi beberapa jenis atau varian baru, misalnya varian delta.

COVID-19 awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Setelah itu, diketahui bahwa infeksi ini juga bisa menular dari manusia ke manusia. Penularannya bisa melalui cara-cara berikut:

• Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19 bersin atau batuk.
• Memegang mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dulu, setelah menyentuh benda yang terkena droplet penderita COVID-19, misalnya uang atau gagang pintu.
• Kontak jarak dekat (kurang dari 2 meter) dengan penderita COVID-19 tanpa mengenakan masker. 

CDC dan WHO menyatakan COVID-19 juga bisa menular melalui aerosol (partikel zat di udara). Meski demikian, cara penularan ini hanya terjadi dalam prosedur medis tertentu, seperti bronkoskopi, intubasi endotrakeal, hisap lendir, dan pemberian obat hirup melalui nebulizer.
Orang yang terinfeksi kemudian akan menularkan virus tersebut ke orang lain melalui lima cara menurut A Handbook of 2019-nCoV Pneumonia Control and Prevention, yaitu:

1. Transmisi dari cairan tubuh yang keluar saat berbicara, batuk, dan bersin;
2. Transmisi melalui udara;
3. Transmisi melalui darah dengan kulit atau selaput lendir yang terbuka (mata, lidah, luka, dan lainnya);
4. Transmisi dari hewan;
Berdekatan dengan pasien yang terinfeksi.

3. Faktor risiko virus corona
Semua orang tanpa kecuali berpotensi untuk terserang virus corona. Namun ada beberapa golongan yang ternyata lebih rentan daripada lainnya. Siapa sajakah itu? Berikut di antaranya:

1. Orang lanjut usia, terutama yang punya riwayat penyakit kronis;
2. Wanita hamil;
3. Orang dengan disfungsi hati dan ginjal.

Sementara itu, anak-anak merupakan golongan orang yang paling kecil kemungkinannya untuk terserang virus ini. 

Tingkat Kematian Akibat COVID-19
Menurut data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Republik Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi positif hingga 06 Agustus 2021 adalah 3.568.331 orang dengan jumlah kematian 102.375 orang

Dari kedua angka ini dapat disimpulkan bahwa case fatality rate atau tingkat kematian yang disebabkan oleh COVID-19 di Indonesia adalah sekitar 2,9%. Case fatality rate adalah presentase jumlah kematian dari seluruh jumlah kasus positif COVID-19 yang sudah terkonfirmasi dan dilaporkan.

Merujuk pada data tersebut, tingkat kematian (case fatality rate) berdasarkan kelompok usia adalah sebagai berikut:

• 0–5 tahun: 0,49%
• 6–18 tahun: 0,14%
• 19–30 tahun: 0.32%
• 31–45 tahun: 1,26%
• 46–59 tahun: 4,84%
• >60 tahun: 11,75%
Dari seluruh penderita COVID-19 yang meninggal dunia, 0,5% berusia 0–5 tahun, 0,5% berusia 6–18 tahun, 2,8% berusia 19–30 tahun, 12,7% berusia 31–45 tahun, 36,8% berusia 46–59 tahun, dan 46,7% berusia 60 tahun ke atas.

Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, 53,1% penderita yang meninggal akibat COVID-19 adalah laki-laki dan 46,9% sisanya adalah perempuan.

Jenis varian baru COVID-19
Dikutip dari alodokter.com
Dari data yang dikeluarkan oleh WHO, saat ini ditemukan beberapa varian SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Berikut rincian jenis varian baru tersebut:

• Varian Alfa (B.1.1.7) yang pada awalnya ditemukan di Inggris sejak September 2020.
• Varian Beta (B.1.351/B.1.351.2/B.1.351.3) yang pada awalnya ditemukan di Afrika Selatan sejak Mei 2020.
• Varian Gamma (P.1/P.1.1/P.1.2) yang pada awalnya ditemukan di Brazil sejak November 2020.
• Varian Delta (B.1.617.2/AY.1/AY.2/AY.3) yang pada awalnya ditemukan di India sejak Oktober 2020.
• Varian Eta (B.1.525) yang penyebarannya ditemukan di banyak negara sejak Desember 2020.
• Varian Iota (B.1526) yang pada awalnya ditemukan di Amerika sejak November 2020.
• Varian Kappa (B.1617.1) yang pada awalnya ditemukan di India sejak Oktober 2020.
• Varian Lamda (c.37) yang pada awalnya ditemukan di Peru sejak Desember 2020.

Apa saja Jenis Vaksin di Indonesia?

   Jenis Vaksin yang akan digunakan di Indonesia ada 7 yaitu: Vaksin Merah Putih (produksi PT Bio Farma), Astra Zeneca (produksi Astra Zeneca dan Universitas Oxford), Sinopharm (produksi China National Pharmaceutical Group Corporation), Moderna, Pfizer Inc and BioNTech, Novavax, dan Sinovac. Saat ini vaksin Sinovac yang telah didatangkan di Indonesia dan mulai digunakan untuk vaksinasi tahap 1.

Vaksin Sinovac sudah mendapatkan ijin penggunaan darurat arau Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM RI dengan hasil uji klinis fase 3 di Bandung memiliki efikasi sebesar 65,3%. Hasil ini sudah memenuhi standart yang ditetapkan oleh WHO dimana minimal efikasi vaksin sebesar 50%. Selain itu vaksin Sinovac sudah resmi mendapatkan sertifikat halal dan suci oleh Komisi Fatwa MUI. Vaksin Sinovac merupakan jenis inactivated virus sehingga reaksi yang ditimbulkan akan lebih ringan seperti nyeri dan bengkak disekitar area penyuntikkan, nyeri otot dan sendi, demam, dan sakit kepala. Reakksi yang berat akibat penyintikan vaksin CoronaVac buatan Sinovac ini sangat jarang terjadi seperti adanya reaksi alergi seperti urtikaria, edema, reaksi anafilaksis dan pingsan.

Pemberian vaksin Sinovac dilakukan dalam 2 dosis dengan penyuntikkan dilakukan 2 kali dengan jarak 14 hari (0 hari dan hari ke-14) secara intramuscular sebanyak 0,5ml per dosis. Sebelum dilakukan pemberian vaksin akan terlebih dahulu dilakukan skrining untuk menentukan kelayakan seseorang untuk menerima vaksin sesuai kondisi masing-masing. Setelah dilakukan vaksinasi COVID-19 maka akan mendapatkan kartu sertifikat sebagai bukti telah menerima vaksin.

Vaksin COVID-19 ini merupakan program gratis dari pemerintah sehingga masyarakat tidak perlu khawatir mengenai pembiayaannya. Pemberian vaksin COVID-19 ini akan bermanfaat untuk mengurangi angka penularan COVID-19 apabila seluruh masyarakat mau ikut berperan dalam menerima vaksin ini hingga tercapai kekebalan komunitas. Bagi masyarakat yang masih ragu akan pemberian vaksin COVID-19 sebaiknya mencari sumber informasi yang sesuai dan terpercaya atau berkonsultasi dengan dokter. Program pemberian vaksin ini akan berjalan dengan lancar jika seluruh stake holder, pemerintah, fasilitas kesehatan dan masyarakat dapat berkerja sama dengan baik.

Diagnosis COVID-19
Hal apakah yang akan dilakukan oleh dokter untuk menentukan apakah pasien terinfeksi COVID-19? 
Dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien, riwayat perjalanan pasien, dan apakah sebelumnya pasien ada kontak dekat dengan orang yang diduga terinfeksi COVID-19.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan berikut:

• Rapid test
 Rapid test untuk mendeteksi antibodi (IgM dan IgG) yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona.

• Rapid test antigen
 Rapid test ini untuk mendeteksi antigen yaitu protein yang ada di bagian terluar virus.

• Tes PCR (polymerase chain reaction) 
 Tes PCR ini untuk mendeteksi virus Corona di dalam dahak.

• CT scan atau Rontgen dada
 CT scan untuk mendeteksi infiltrat atau cairan di paru-paru.

• Tes darah lengkap 
 untuk memeriksa kadar sel darah putih dan C-reactive protein.

• Analisis gas darah
  untuk memeriksa kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam darah.

Perlu diketahui, rapid test pada COVID-19 hanya digunakan sebagai tes skrining atau pemeriksaan awal, bukan untuk memastikan diagnosis COVID-19. Hasil rapid test positif belum tentu menandakan Anda terkena COVID-19. Anda bisa saja mendapatkan hasil positif bila pernah terinfeksi virus lain atau coronavirus jenis lain.

Sebaliknya, hasil rapid test COVID-19 negatif juga belum tentu menandakan bahwa Anda terbebas dari COVID-19. Oleh sebab itu, apa pun hasil rapid test Anda, konsultasikan dengan dokter agar dapat diberikan pengarahan lebih lanjut, termasuk perlu tidaknya mengonfirmasi hasil tes tersebut dengan tes PCR. Biasanya tes PCR akan melampirkan hasil positif atau negatif dengan nilai CT value.

Pengobatan COVID-19
   Sampai saat ini, belum ada obat yang secara pasti dapat mengatasi penyakit COVID-19. Jika Anda di diagnosis COVID-19 tetapi tidak mengalami gejala atau hanya mengalami gejala ringan, Anda bisa melakukan perawatan atau isolasi mandiri di rumah.

Ruangan isolasi harus memiliki ventilasi dan cahaya yang baik serta pertukaran udara yang cukup. Selain itu, ruangan isolasi juga wajib dibersihkan setiap hari dengan air sabun atau desinfektan. Selama isolasi mandiri, perhatikan beberapa hal berikut:
• Lakukan isolasi mandiri selama 2 minggu dengan tidak keluar rumah dan menjaga jarak dengan orang dalam satu rumah.
• Selalu gunakan masker jika keluar rumah atau saat akan berinteraksi dengan anggota keluarga.
• Terapkan etika batuk.
• Ukur suhu tubuh 2 kali sehari, pagi dan malam hari.
• Cuci tangan dengan sabun, air mengalir, atau hand sanitizer.
• Banyak minum air putih untuk menjaga kadar cairan tubuh.
• Istirahat yang cukup untuk mempercepat proses penyembuhan.
• Konsumsi obat pereda batuk, demam, dan nyeri, setelah berkonsultasi dengan dokter.
• Perhatikan gejala yang Anda alami dan segera hubungi dokter jika gejala memburuk.

Komplikasi COVID-19
Pada kasus yang parah, infeksi COVID-19 bisa menyebabkan komplikasi serius berupa:

• Edema paru
• Gagal napas akut
• Pneumonia
• Gagal jantung akut
• Gagal hati akut
• Infeksi sekunder pada organ lain, seperti • penyakit jamur hitam
• Gagal ginjal
• Gangguan pembekuan darah
• Rhabdomyolysis
• ARDS (acute respiratory distress syndrome)
• Syok septik
• dan Kematian.

Selain itu, saat ini muncul istilah long haul COVID-19. Istilah ini merujuk kepada seseorang yang sudah dinyatakan sembuh melalui hasil pemeriksaan PCR yang sudah negatif, tetapi tetap merasakan keluhan seperti lemas, batuk, nyeri sendi, nyeri dada, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, atau demam yang hilang timbul.
  
addres email: pathurrahmansptraa@gmail.com
alamat blog: serbaserbicovid19.blogsot.com

Nama : Pathur Rohman Saputra
Kelas : X IPA 1




Komentar

  1. Udah bagus.tulis kan sumber tulisannya ya.

    BalasHapus
  2. Tuliskansumbernya ya. Sudah bagus isinya.

    BalasHapus
  3. Ibu, Pathur sudah mencantumkan sumber blog tersebut dan sudah mencantumkan dikutip dari sumber nya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYISIPKAN VIDEO PADA BLOG

MENGENAL PROTOKOL KESEHATAN 5M

PENULARAN COVID-19 DAN CARA PENCEGAHANNYA!